MAKALAH
Akidah Akhlak II
Adab Dalam Majelis Ilmu
Dosen Pembimbing : Dr.Nur Habibullah M.Pd.I
Di Susun Oleh : Kelompok 5
Amisa Putri Az-Zahra (21.11.2649)
Fika Aryani (21.11.2669)
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM AN NADWAH
KUALA TUNGKAL
TAHUN AJARAN 2022/2023
KATA PENGANTAR
Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas selesainya Makalah Aqidah Akhlak II Dengan judul Adab Dalam Majelis Ilmu ,dalam penulisan makalah ini kami merasa masih banyak kekurangan baik dalam teknis penulisan maupun materi, mengingat kemampuan yang kami miliki. Serta kami mengucapkan terima kasih kepada bapak Dosen Pembimbing mata kuliah Akidah Akhlak III. saran dan kritik yang membangun akan kami terima dengan hati terbuka agar dapat meningkatkan kualitas makalah ini.
Kuala Tungkal,12 September 2022
Penulis
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ii
DAFTAR ISI iii
BAB I PENDAHULUAN 1
A.Latar Belakang 1
B.Rumusan Masalah. 1
C.Tujuan Masalah. 2
BAB II PEMBAHASAN 3
A.Pengertian Majelis Ilmu 3
B.Adab Dalam Majelis Ilmu 5
C.Keutamaan Belajar Majelis Ilmu 8
BAB III PENUTUP 11
A.Kesimpulan 11
DAFTAR PUSTAKA
BAB I
PENDAHULUAN
A.Latar Belakang
Adab menurut arti bahasa adalah kesopanan, tingkah laku yang pantas, tingkah laku yang baik, kehalusan budi dan tata susila. Adab juga bisa berarti pengajaran dan pendidikan yang baik sebagaimana sabda Rasulullah SAW :
أَدَّ بَنِى رَبِّى فَأَحْسَنَ تَأْدِيْبىِ
“Sesungguhnya Allah ‘azawajalla telah mendidikku dengan adab yang baik (dan jadilah pendidikan adab ku istimewa)” (HR. Ibnu Mas’ud)
Kata مجالس adalah bentuk jamak مجلس . Majelis bermakna “tempat duduk”, sedangkan menurut kamus besar bahasa Indonesia majelis adalah pertemuan, kumpulan, tempat sidang. Orang-orang yang berilmu akan mendapat banyak manfaat dan keutamaan ilmu itu sendiri. Nah,salah satu cara mendapatkan ilmu itu dapat melalui majelis. Dalam kehidupan dunia, ilmu pengetahuan mempunyai perang yang sangat penting. Perkembangan dan kemajuan ilmu pengetahuan memberikan kemudahan bagi kehidupan baik dalam kehidupan individu maupun kehidupan bermasyarakat. Melihat begitu pentingnya ilmu bagi seorang muslim maka tiap-tiap muslim wajib berilmu dan salah satu medianya adalah bermajlis. Mendatangi majelis ilmu penting bagi umat muslim. Untuk bermajlis dengan baik,muslim harus tahu tentang adab majlis.
B.Rumusan Masalah.
1. Apa yang Dimaksud dengan Majelis Ilmu?
2.Apa Saja Adab dalam Majelis Ilmu?
3. apa saja keutamaan belajar majelis ilmu?
C.Tujuan Masalah.
1. Mengetahui apa itu Majelis Ilmu.
2.Dapat mengetahui Adab dalam Majelis Ilmu.
3. Mengetahui keutamaan dalam majelis ilmu.
BAB II
PEMBAHASAN
A.Pengertian Majelis Ilmu.
Dalam kamus bahasa Majelis adalah lembaga (organisasi ) sebagai wadah pengajian dan kata majlis dalam kalangan ulama adalah lembaga masyarakat nonpemerintah yang terdiri atas para ulama islam. Arti Ilmu adalah pengajaran, jadi Majlis Ilmuadalah secara bahasa adalah tempat untuk melaksanakan pengajaran atau pengajian agama islam. Secara istilah Majlis Ilmu adalah lembaga pendidikan non formal islam yang memiliki kurikulum tersendiri.Dengan demikian Majlis Ilmudapat dipahami sebagai suatu institut dakwah yang menyelenggarakan pendidikan agama yang berciri non-formal, tidak teratur waktu belajar, para peserta disebut jamaah dan bertujuan khusus untuk usaha memasyrakatkan islam. Adanya Majlis Ilmudi tengah-tengah masyarakat bertujuan untuk menambah ilmu dan keyakinan agama yang akan mendorong pengalaman ajaran agama sebagai silaturahmi anggota masyarakat dan meningkatkan kesadaran dan kesejahteraan rumah tangga dan lingkungan jamaahnya(alawiyah, 1997:78) Majlis Ilmu juga berguna dalam membina dan mengembangkan kehidupan beragama dalam rangka membentuk masyarakat yang bertakwa kepada Allah SWT.
Adapun dalil tentang Majlis Ilmu.
ياَءيُّهَاالَّدِيْنء اَمّنُوْ اِاذَا قِيْلَ لَكُمْ تَفَسَّحُوْ فِى الْمَجَلِسِ فَافْسَحُوْا يَفْسَحِ اللهُ لَكُمْ وَاِذَا ِقيْلَ انْشُزُوْا فَانْشُزُ وْا يَرْفَعِ اللهُ الَّدِيْنَءَامَنُوْامِنْكُمْ وَالَّذِيْنَ اُوْتُوْاالعِلْمَ دَرَجَتٍ وَاللهُ بِمَا تَعْمَلُوْنَ الْخَبِيْرٌ(11)
Artinya:
“Hai orang-prang yang beriman,apabila di katakan kepadamu,”berlapanglah-lapanglah dalam majelis maka lapangkanlah,niscaya Allah akan memberikan kelapanganuntukmu. Dan apabila dikatakan,berdirilah kamu, maka berdirilah, niscaya Allah akan menigkatkan orang-orang yang beriman diantaramu dan orang-orang yang di beri ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.
Hal ini dijelaskan oleh Rasulullah dalam haditsnya yang diriwayatkan oleh Tirmidzi:
عن ابى جحيفة قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : جا لسوا العلماء وسائلوا الكبراء وخا لطوا الحكماء ( رواه الطبراني فى كنز العلمال)
Artinya: “Dari Abi Juhaifah berkata: Telah berkata Rasulullah SAW: Duduklah kalian semua bersama para Ulama’ dan bertanyalah kalian semua kepada orang besar atau tokoh dan bergaulah kalian semua bersama orang-orang yang ahli hukum. (HR. Thabrani)
Dari Hadits diatas dapat kita pahami, bahwa Rasulullah SAW menyuruh kita untuk duduk berdekatan dengan para Ulama (orang-orang yang berilmu) dalam suatu majlis ilmu. Dengan begitu kita akan mempunyai kesempatan yang lebih banyak untuk bertanya kepada mereka terutama dalam masalah Agama. Karena para Ulama dinilai lebih tinggi dari segi pengetahuannya. Sehingga kita akan mendapatkan manfaat dari Ilmunya. Selain dekat dengan ulama, kita juga diperintahkan untuk bertanya tentang ilmu kepada mereka.
Jika dalam suatu kelas, maka kita lebih baik duduk di depan yang dekat dengan guru. Dengan begitu, kita akan lebih mudah menyerap penjelasan guru. Karena kita akan lebih mudah mudah menangkap penjelasanya. Disamping itu kita juga akan lebih mudah bertanya kepada guru. Karena dalam hadits diatas, disamping kita disuruh untuk dekat pada ulama, kita juga disuruh untuk bertanya tentang ilmu kepada mereka. Karena dengan begitu kita akan lebih mudah mendapatkan suatu ilmu yang ada pada majis ilmu.
B. Adab Dalam Majelis Ilmu.
Sebagai seorang muslim, hendaknya kita menghadiri majelis ilmu dengan adab yang sesuai dengan syariat Islam. Adab menunjukkan kepribadian dari seorang muslim. Rasulullah sendiri telah mencontohkan bagaimana seharusnya beradab dalam setiap aktivitas, termasuk majelis. Berikut ini adalah beberapa adab dalam majelis yang perlu diketahui:
1.Memberi salam
Salam adalah penanda keramahanm seorang muslim. Memberi salam sama dengan mendoakan para hadirin di majelis ilmu lainnya.
Abu Hurairah ra telah meriwayatkan, Rasulullah SAW bersabda, Bila salah seorang kamu sampai di suatu majlis, maka hendaklah memberi salam, lalu jika dilihat layak baginya duduk maka duduklah ia. Kemudian jika bangkit (akan keluar) dari majlis hendaklah memberi salam pula. Bukanlah yang pertama lebih berhak daripada yang selanjutnya. (HR. Abu Daud dan At-Tirmidzi)
2.Tidak berbisik berduaan
- Dalam sebuah majelis tentu akan terdapat banyak orang di dalamnya. Maka dari itu, tidak seharusnya kita saling berbisik-bisik hanya dengan satu orang saja. Hal ini dapat melukai perasaan orang lain sehingga kurang pantas dilakukan. Ibnu Mas`ud Radhiallaahu anhu menuturkan : Rasulullah Shallallaahu alaihi wa sallam telah bersabda, Bila kamu tiga orang, maka dua orang tidak boleh berbisik-bisik tanpa melibatkan yang ketiga sehingga kalian bercampur baur dengan orang banyak, karena hal tersebut dapat membuatnya sedih. (Muttafaqalaih).
3.Duduk di kursi yang kosong
Jika Anda baru saja tiba di majelis, maka hendaknya janganlah duduk di kursi yang telah ditempati oleh orang lain. Duduklah di kursi yang kosong sehingga tidak akan mengganggu orang lain.
Jabir bin Samurah telah menuturkan: Adalah kami, apabila kami datang kepada Nabi SAW maka masing-masing kami duduk di tempat yang masih tersedia di majelis. (HR. Abu Daud).
4.Tidak banyak tertawa
Majelis ilmu merupakan tempat kita mencari ilmu dan sudah seharusnya kita tidak banyak berbicara apalagi tertawa. Bahkan Rasul sendiri pernah memperingatkan bahwa tertawa yang berlebihan dapat menyebabkan matinya hati.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah memberikan nasihat kepada Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu,
(( وَلاَ تُكْثِرِ الضَّحِكَ, فَإِنَّ كَثْرَةَ الضَّحِكِ تُمِيتُ الْقَلْبَ
Janganlah banyak tertawa! Sesungguhnya banyak tertawa akan mematikan hati.” ( HR At-Tirmidzi no. 2305. Syaikh Al-Albani berkata, “Hasan.” (Shahih Sunan At-Tirmidzi.)
5.Saling menghormati
Berkumpulnya banyak orang dalam sebuah majelis harusnya menimbulkan rasa saling menghormati dan menghargai. Terutama pada guru atau ustadz yang memberikan ilmu, hendaknya kita menghormati dengan mendengarkan pemaparan yang diberikan.
ليس منا من لم يجل كبيرنا و يرحم صغيرنا و يعرف لعالمنا حقه
Tidak termasuk golongan kami orang yang tidak menghormati yang lebih tua dan menyayangi yang lebih muda serta yang tidak mengerti hak ulama. [Riwayat Ahmad dan dishahihkan Al Albani dalam Shahih Al Jami’].
6.Memperhatikan
Ketika sedang berada di sebuah majelis, perhatikanlah apa yang dibicarakan dan didiskusikan di dalamnya. Selain menghargai pemberi ilmu, hal ini juga akan menguatkan ingatan kita tentang ilmu yang disampaikan.
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ بَيْنَمَا النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي مَجْلِسٍ يُحَدِّثُ الْقَوْمَ جَاءَهُ أَعْرَابِيٌّ فَقَالَ مَتَى السَّاعَةُ فَمَضَى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُحَدِّثُ حَتَّى إِذَا قَضَى حَدِيثَهُ قَالَ أَيْنَ أُرَاهُ السَّائِلُ عَنْ السَّاعَةِ قَالَ هَا أَنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ فَإِذَا ضُيِّعَتْ الْأَمَانَةُ فَانْتَظِرْ السَّاعَةَ قَالَ كَيْفَ إِضَاعَتُهَا قَالَ إِذَا وُسِّدَ الْأَمْرُ إِلَى غَيْرِ أَهْلِهِ فَانْتَظِرْ السَّاعَةَ
Dari Abu Hurairah, beliau berkata,“Ketika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berada di majelis menasihati kaum, datanglah seorang Arabi dan bertanya,Kapan hari kiamat? (Tetapi) beliau terus saja berbicara sampai selesai. Lalu (beliau Shallallahu alaihi wa sallam) bertanya,Mana tampakkan kepadaku yang bertanya tentang hari kiamat? Dia menjawab,Saya, wahai Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam. Lalu beliau berkata, Jika amanah disia-siakan, maka tunggulah hari kiamat. Dia bertanya lagi, Bagaimana menyia-nyiakannya? Beliau menjawab, Jika satu perkara diberikan kepada bukan ahlinya, maka tunggulah hari kiamat. [Riwayat Bukhari].
7.Berani bertanya
Sering kali dalam sebuah majelis diberikan sesi pertanyaan namun banyak yang justru malu bertanya. Padahal dengan bertanya justru akan membuka wawasan lebih luas. Rasul bersabda,
أَلَا سَأَلُوا إِذْ لَمْ يَعْلَمُوا فَإِنَّمَا شِفَاءُ الْعِيِّ السُّؤَالُ
Seandainya mereka bertanya! Sesungguhnya obatnya kebodohan adalah bertanya. [Riwayat Abu Daud, Ibnu Majah, Ahmad dan Darimi dan dishahihkan Syeikh Salim Al Hilali dalam Tanqihul Ifadah Al Muntaqa Min Miftah Daris Saadah, hal. 174]
8.Meneladani adab sang guru
Guru yang memberikan ilmu dalam sebuah majelis tentu orang yang beradab, maka sudah patut kita contoh semua akhlaknya yang baik. Abu Bakar Al Muthaawii berkata,Saya menghadiri majelis Abu Abdillah beliau sedang mengimla musnad kepada anak-anaknya- duabelas tahun. Dan saya tidak menulis, akan tetapi saya hanya melihat kepada adab dan akhlaknya.
C. Keutamaan Dalam Majelis Ilmu.
1.Mendapatkan Ketenangan, Rahmat, dan Dimuliakan Malaikat
Keutamaan majelis ilmu adalah memberikan ketenangan kepada orang yang mendatanginya. Rasulullah SAW bersabda:
وَمَا اجْتَمَعَ قَوْمٌ فِى بَيْتٍ مِنْ بُيُوتِ اللَّهِ يَتْلُونَ كِتَابَ اللَّهِ وَيَتَدَارَسُونَهُ بَيْنَهُمْ إِلاَّ نَزَلَتْ عَلَيْهِمُ السَّكِينَةُ وَغَشِيَتْهُمُ الرَّحْمَةُ وَحَفَّتْهُمُ الْمَلاَئِكَةُ وَذَكَرَهُمُ اللَّهُ فِيمَنْ عِنْدَه
Artinya: “Tidaklah suatu kaum berkumpul di salah satu rumah dari rumah-rumah Allah (masjid) membaca Kitabullah dan saling mempelajarinya, melainkan akan turun kepada mereka sakinah (ketenangan) mereka akan dinaungi rahmat, mereka akan dilingkupi para malaikat dan Allah akan menyebut-nyebut mereka di sisi para makhluk yang dimuliakan di sisi-Nya. (HR Muslim).
2.Termasuk Jihad fi Sabilillah
Terkait hal ini, Rasulullah SAW bersabda:
مَن دخَل مسجِدَنا هذا لِيتعلَّمَ خيرًا أو يُعلِّمَه كان كالمُجاهِدِ في سبيلِ اللهِ ومَن دخَله لغيرِ ذلكَ كان كالنَّاظرِ إلى ما ليس له
Artinya: “Barangsiapa yang memasuki masjid kami ini (masjid Nabawi) untuk mempelajari kebaikan atau untuk mengajarinya, maka ia seperti mujahid fi sabilillah.Dan barangsiapa yang memasukinya bukan dengan tujuan tersebut, maka ia seperti orang yang sedang melihat sesuatu yang bukan miliknya.” (HR Ibnu Hibban)
3.Dicatat Amalannya di ‘Illiyyin
Rasulullah SAW bersabda:
صلاةٌ في إثرِ صلاةٍ لا لغوَ بينَهما كتابٌ في علِّيِّينَ
Artinya: “Seorang yang setelah selesai salat (di masjid) kemudian menetap di sana hingga salat berikutnya, tanpa melakukan laghwun (kesia-siaan) di antara keduanya, akan dicatat amalan tersebut di ‘illiyyin” (HR Abu Daud).
4. Dimudahkan Jalan Menuju Surga
Orang yang keluar dari rumahnya menuju masjid untuk menuntut ilmu, maka jalannya ke surga akan dipermudah. Dalam sebuah hadis, Rasulullah SAW bersabda:
مَن سلَك طريقًا يطلُبُ فيه عِلْمًا، سلَك اللهُ به طريقًا مِن طُرُقِ الجَنَّةِ
Artinya: “Barangsiapa menempuh jalan menuntut ilmu, maka Allah akan memudahkan jalannya untuk menuju surga.” (HR At Tirmidzi dan Abu Daud).
Dengan gemar menghadiri majelis ilmu Allah akan memudahkan kita menuju jalan ke surga. Tentu saja surga yang dimaksud tidak hanya berkonotasi kepada tempat bergelimang nikmat di akhirat kelak. Surga di sini bisa kita pahami sebagai segala sesuatu yang melapangkan diri kita di dunia salah satu bentuknya adalah dimudahkannya kita dalam masalah-masalah yang berkaitan dengan tercapainya ilmu pengetahuan.
5. Orang yang menghadiri majelis ilmu-ilmu akan diampuni dosanya oleh Allah bahkan ikan-ikan di lautan memohon ampunan bagi orang-orang yang menuntut ilmu serta para malaikat membentangkan sayapnya bagi mereka tentang hal ini Rasulullah bersabda:
"Tidaklah suatu kaum duduk, kemudian mereka berdzikir kepada Allah hingga mereka berdiri, melainkan dikatakan (oleh malaikat) kepada mereka, 'Berdirilah kalian, sesungguhnya Allah telah mengampuni dosa-dosa, kalian dan keburukan keburukan kalian pun telah diganti dengan berbagai kebaikan." (HR. Thabrani)
6. Majelis ilmu sebagai taman surga.
Anas bin Malik menuturkan bahwa Rasulullah SAW bersabda, "jika kalian melewati teman-teman surga, singgahlah dengan hati riang"
Para sahabat bertanya, "Apakah taman-taman surga itu, ya Rasulullah?"
"Halaqah-halaqah (kelompok-kelompok) dzikir (ilmu)," jawab beliau. (HR. Tirmidzi).
7. Terhindar dari murka Allah SWT. Tentang hal ini, Rasulullah SAW, bersabda:
"Dunia ini terkutuk dengan segala isinya kecuali dzikrullah (taat kepada Allah) dan yang serupa itu, berilmu dan penuntut ilmu." (HR. Tirmidzi).
BAB III
PENUTUP
A.kesimpulan.
Dalam kamus bahasa Majelis adalah lembaga (organisasi ) sebagai wadah pengajian dan kata majlis dalam kalangan ulama’ adalah lembaga masyarakat nonpemerintah yang terdiri atas para ulama islam.
Dalam melakukan hubungan sosial antar manusia baik sesama muslim ataupun non-muslim harus senantiasa memperhatikan adab, baik dalam betingkah maupun dalam berbicara, terutama didalam suatu majelis ilmu.
Sebagai seorang muslim, hendaknya kita menghadiri majelis ilmu dengan adab yang sesuai dengan syariat Islam. Adab menunjukkan kepribadian dari seorang muslim. Rasulullah sendiri telah mencontohkan bagaimana seharusnya beradab dalam setiap aktivitas, termasuk majelis.
DAFTAR PUSTAKA
Reza Maulana, adab dalam majelis ilmu, 2015http://rezamaulana182.blogspot.com/2015/12/adab-majelis-a.html?m=1, diakses pada tanggal 13 September 2022.
Adab dalam majelis ilmu,2019,https://pengembara9ilmu.blogspot.com/2019/04/majelis-ilmu-dalam-pespektif-al-quran.html?m=1, diakses pada tanggal 13 September 2022.
Susi iffatur rafidah,dkk, etika dalam majelis ilmu,2011 https://amrikhan.wordpress.com/2012/07/02/etika-di-majelis-ilmu/, diakses pada tanggal 13 September 2022.
Redaksi dalam Islam,Adab dalam majelis ilmu,https://dalamislam.com/akhlaq/adab-dalam-majelis/amp, diakses pada tanggal 13 September 2022
https://muslim.or.id/39642-keutamaan-menghadiri-majelis-ilmu-di-masjid.htmldi aksses pada tanggal 29 september2022
Tidak ada komentar:
Posting Komentar